Kadang bagi pemula masih bingung bagaimana caranya memasukkan file PP ke dalam blog/web,yaaa...contonhnta seperti saya ini. Namun akhirnya lewat buka situs-situs belajar blog saya bisa menemukan cara yang termudah, caranya :
1. Buka http://www.slideshare.net/upload
2. Bila belum mempunyai account,lakukan pendaftaran dengan klik sign up
3. Isi data- data yang harus diisi dikolom pendaftaran
4. Setelah mendaftar,lakukan login dengan username dan password yang sudah kita isi di form pendaftaran
5. Klik Upload
6. Klik Browse, dan cari file yang akan kita upload, klik open
7. File akan diloading untuk upload
8. Setelah terupload di slide share, akan muncul kode HTML file PP kita biasanya dibagian kanan atas
9. Copi kode HTML tst ke blog kita dengan sebelumnya masuk ke 'Entri baru' dan pilih jenis penulisan HTML
10. Publish
11. Jadiii deehh....Selamat mencoba yaaa...Good Luck..!!!!
selamat datang di blogger yunisa putri
Minggu, 30 Maret 2014
Jumat, 28 Maret 2014
Selasa, 25 Maret 2014
Dewi Sartika
Jangan tanya apa yang telah diberikan negara kepadamu, tapi apa yang telah kamu berikan pada negaramu. Kata bijak tersebut sangat tepat menjadi panduan semua bangsa yang hendak menobatkan seseorang sebagai penerima gelar kehormatan pahlawan’ di negaranya.
Terlepas dari bentuk atau cara perjuangannya, seorang pahlawan pasti telah berbuat sesuatu yang heroik untuk bangsanya sesuai kondisi zamannya. Demikian halnya dengan Raden Dewi Sartika. Jika pahlawan lain melakukan perjuangan untuk bangsanya melalui perang frontal seperti angkat senjata, Dewi Sartika memilih perjuangan melalui pendidikan, yakni dengan mendirikan sekolah. Berbagai tantangan, khususnya di bidang pendanaan operasional sekolah yang didirikannya sering dihadapinya. Namun berkat kegigihan dan ketulusan hatinya untuk membangun masyarakat negerinya, sekolah yang didirikannya sebagai sarana pendidikan kaum wanita bisa berdiri terus, bahkan menjadi panutan di daerah lainnya.
Jiwa patriotisme memang mengalir dalam diri wanita kelahiran Cicalengka, Jawa Barat, 4 Desember 1884 ini. Ayahnya, Raden Somanagara adalah seorang pejuang kemerdekaan. Terakhir, sang ayah dihukum buang ke Pulau Ternate oleh Pemerintah Hindia Belanda hingga meninggal dunia di sana.
Raden Dewi Sartika yang mengikuti pendidikan Sekolah Dasar di Cicalengka, sejak kecil memang sudah menunjukkan minatnya di bidang pendidikan. Dikatakan demikian karena sejak anak-anak ia sudah senang memerankan perilaku seorang guru. Sebagai contoh, sebagaimana layaknya anak-anak, biasanya sepulang sekolah, Dewi kecil selalu bermain sekolah-sekolahan dengan teman-teman anak perempuan sebayanya, ketika itu ia sangat senang berperan sebagai guru.
Berpikir agar anak-anak perempuan di sekitarnya bisa memperoleh kesempatan menuntut ilmu pengetahuan, maka ia berjuang mendirikan sekolah di Bandung, Jawa Barat. Ketika itu, ia sudah tinggal di Bandung. Perjuangannya tidak sia-sia, dengan bantuan R.A.A.Martanegara, kakeknya, dan Den Hamer yang menjabat Inspektur Kantor Pengajaran ketika itu, maka pada tahun 1904 dia berhasil mendirikan sebuah sekolah yang dinamainya “Sekolah Isteri”. Sekolah tersebut hanya dua kelas sehingga tidak cukup untuk menampung semua aktivitas sekolah. Maka untuk ruangan belajar, ia harus meminjam sebagian ruangan Kepatihan Bandung. Awalnya, muridnya hanya dua puluh orang. Murid-murid yang hanya wanita itu diajar berhitung, membaca, menulis, menjahit, merenda, menyulam dan pelajaran agama.
Sekolah Istri tersebut terus mendapat perhatian positif dari masyarakat. Murid- murid bertambah banyak, bahkan ruangan Kepatihan Bandung yang dipinjam sebelumnya juga tidak cukup lagi menampung murid-murid. Untuk mengatasinya, Sekolah Isteri pun kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih luas.
Seiring perjalanan waktu, enam tahun sejak didirikan, pada tahun 1910, nama Sekolah Istri sedikit diperbarui menjadi Sekolah Keutamaan Isteri. Perubahan bukan cuma pada nama saja, tapi mata pelajaran juga bertambah. Ia berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, bisa berdiri sendiri, luwes, dan terampil. Maka untuk itu, pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya.
Untuk menutupi biaya operasional sekolah, ia membanting tulang mencari dana. Semua jerih payahnya itu tidak dirasakannya jadi beban, tapi berganti menjadi kepuasan batin karena telah berhasil mendidik kaumnya. Salah satu yang menambah semangatnya adalah dorongan dari berbagai pihak terutama dari Raden Kanduruan Agah Suriawinata, suaminya, yang telah banyak membantunya mewujudkan perjuangannya, baik tenaga maupun pemikiran.
Apa yang dilakukan Dewi Sartika dengan sekolah di Bandung ini rupanya menjadi pelajaran dan teladan bagi wanita di daerah lainnya. Di daerah Garut, Tasikmalaya maupun Purwakarta kemudian berdiri pula sekolah serupa, Sekolah Keutamaan Isteri.
Apa yang telah dilakukannya sangat menarik perhatian banyak orang saat itu. Pejabat-pejabat pemerintah pun kemudian sering berkunjung ke sekolahnya, bahkan kemudian menghadiahkan Bintang Perak sebagai tanda penghargaan atas jasa-jasa Raden Dewi Sartika.
Era Perang Dunia I, merupakan masa paling berat bagi Dewi Sartika dalam mengatasi keuangan sekolahnya. Namun upaya kerasnya berhasil mengantarnya melewati itu semua. Bahkan, pada tahun 1929, Sekolah Keutamaan Isteri sudah memiliki gedung sendiri. Seiring dengan itu, Sekolah Keutamaan Isteri pun berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi.
Terakhir, pada masa perang kemerdekaan, kota Bandung berhasil diduduki oleh pasukan Belanda. Semua rakyat mengungsi. Dewi Sartika pun terpaksa menghentikan kegiatan dan ikut mengungsi ke Cinean.
Raden Dewi Sartika beruntung masih sempat menyaksikan kebebasan bangsanya dari tangan penjajah walaupun ia harus menikmatinya lebih banyak di pengungsian. Saat di pengungsian, beliau meninggal dunia pada usia 63 tahun, persisnya pada tanggal 11 September 1947. Mengingat situasi perang, maka jenazahnya dimakamkan di Cinean, namun di kemudian hari dipindahkan ke Bandung.
Mengingat jasa-jasanya dalam membangun putri-putri bangsa, maka pemerintah atas nama negara menganugerahkan gelar kehormatan pada beliau sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Gelar kehormatan tersebut diberikan pada tanggal 1 Des 1966 dan disahkan melalui SK Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia Presiden RI No.252 Tahun 1966.
Sumber: tokohindonesia.com
Ki Hajar Dewantara
Pendiri Taman Siswa ini adalah Bapak Pendidikan Nasional. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan dimakamkan di sana.
Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.
Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.
Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai Lihat Daftar Wartawan
wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.
wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.
Selain ulet sebagai seorang Lihat Daftar Wartawan
wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.
wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.
Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.
Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.
Kemudian setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij ia pun ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.
Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker itu antara lain berbunyi:
“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.
Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun”.
Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang) yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka.
Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda.
Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada didaerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman.
Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte.
Kemudian ia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.
Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.
Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut.
Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.
Sementara itu, pada zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur.
Setelah zaman kemedekaan, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama Ki Hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Lihat Daftar Menteri Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan Lihat Daftar Pahlawan Nasional pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Lihat Daftar Pahlawan Nasional pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.
Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978) Yogyakarta dan dimakamkan di sana.
Kemudian oleh pihak penerus perguruan Taman Siswa, didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978) Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional.
Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.
Sumber: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/295-pahlawan/1502-bapak-pendidikan-nasional
Dipublikasikan oleh Tata Sumitra pada Kamis, 6 Februari 2014 dan dibaca sebanyak : 473 kali.
http://dikdas.kemdikbud.go.id/index.php/ki-hajar-dewantara/
Raden Adjeng Kartini
http://dikdas.kemdikbud.go.id/index.php/raden-adjeng-kartini/
Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Hari Kartini
Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.
Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan ting
gi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.
Surat-Surat
Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.
Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.
Terbi
tnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.
Pemikiran
Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. “…Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu…” Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.
Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…” Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.
Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang.
Buku
1. Habis Gelap Terbitlah Terang
Pada 1922, oleh Empat Saudara, Door Duisternis Tot Licht disajikan dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane, salah seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemah surat-surat Kartini ke dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Ia pun juga disebut-sebut sebagai Empat Saudara.
Pada 1938, buku Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan kembali dalam format yang berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door Duisternis Tot Licht. Buku terjemahan Armijn Pane ini dicetak sebanyak sebelas kali. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Armijn Pane menyajikan surat-surat Kartini dalam format berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Pembagian tersebut ia lakukan untuk menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi. Pada buku versi baru tersebut, Armijn Pane juga menciutkan jumlah surat Kartini. Hanya terdapat 87 surat Kartini dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Penyebab tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada dalam buku acuan Door Duisternis Tot Licht, adalah terdapat kemiripan pada beberapa surat. Alasan lain adalah untuk menjaga jalan cerita agar menjadi seperti roman. Menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan. Ini pula yang menjadi salah satu penjelasan mengapa surat-surat tersebut ia bagi ke dalam lima bab pembahasan.
2. Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya.
Surat-surat Kartini juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Pada mulanya Sulastin menerjemahkan Door Duisternis Tot Licht di Universitas Leiden, Belanda, saat ia melanjutkan studi di bidang sastra tahun 1972. Salah seorang dosen pembimbing di Leiden meminta Sulastin untuk menerjemahkan buku kumpulan surat Kartini tersebut. Tujuan sang dosen adalah agar Sulastin bisa menguasai bahasa Belanda dengan cukup sempurna. Kemudian, pada 1979, sebuah buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap Door Duisternis Tot Licht pun terbit.
Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Menurut Sulastin, judul terjemahan seharusnya menurut bahasa Belanda adalah: “Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsa Jawa”. Sulastin menilai, meski tertulis Jawa, yang didamba sesungguhnya oleh Kartini adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia.
Buku terjemahan Sulastin malah ingin menyajikan lengkap surat-surat Kartini yang ada pada Door Duisternis Tot Licht. Selain diterbitkan dalam Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, terjemahan Sulastin Sutrisno juga dipakai dalam buku Kartini, Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya.
3. Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904
Buku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904. Penerjemahnya adalah Joost Coté. Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Joost Coté juga menerjemahkan seluruh surat asli Kartini pada Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir. Pada buku terjemahan Joost Coté, bisa ditemukan surat-surat yang tergolong sensitif dan tidak ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Menurut Joost Coté, seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya sudah saatnya untuk diungkap.
Buku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904. Penerjemahnya adalah Joost Coté. Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Joost Coté juga menerjemahkan seluruh surat asli Kartini pada Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir. Pada buku terjemahan Joost Coté, bisa ditemukan surat-surat yang tergolong sensitif dan tidak ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Menurut Joost Coté, seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya sudah saatnya untuk diungkap.
Buku Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 memuat 108 surat-surat Kartini kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan suaminya JH Abendanon. Termasuk di dalamnya: 46 surat yang dibuat Rukmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematrie.
Selain berupa kumpulan surat, bacaan yang lebih memusatkan pada pemikiran Kartini juga diterbitkan. Salah satunya adalah Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer. Buku Panggil Aku Kartini Saja terlihat merupakan hasil dari pengumpulan data dari berbagai sumber oleh Pramoedya.
5. Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya
Akhir tahun 1987, Sulastin Sutrisno memberi gambaran baru tentang Kartini lewat buku Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya. Gambaran sebelumnya lebih banyak dibentuk dari kumpulan surat yang ditulis untuk Abendanon, diterbitkan dalam Door Duisternis Tot Licht.
Kartini dihadirkan sebagai pejuang emansipasi yang sangat maju dalam cara berpikir dibanding perempuan-perempuan Jawa pada masanya. Dalam surat tanggal 27 Oktober 1902, dikutip bahwa Kartini menulis pada Nyonya Abendanon bahwa dia telah memulai pantangan makan daging, bahkan sejak beberapa tahun sebelum surat tersebut, yang menunjukkan bahwa Kartini adalah seorang vegetarian. Dalam kumpulan itu, surat-surat Kartini selalu dipotong bagian awal dan akhir. Padahal, bagian itu menunjukkan kemesraan Kartini kepada Abendanon. Banyak hal lain yang dimunculkan kembali oleh Sulastin Sutrisno.
Kartini dihadirkan sebagai pejuang emansipasi yang sangat maju dalam cara berpikir dibanding perempuan-perempuan Jawa pada masanya. Dalam surat tanggal 27 Oktober 1902, dikutip bahwa Kartini menulis pada Nyonya Abendanon bahwa dia telah memulai pantangan makan daging, bahkan sejak beberapa tahun sebelum surat tersebut, yang menunjukkan bahwa Kartini adalah seorang vegetarian. Dalam kumpulan itu, surat-surat Kartini selalu dipotong bagian awal dan akhir. Padahal, bagian itu menunjukkan kemesraan Kartini kepada Abendanon. Banyak hal lain yang dimunculkan kembali oleh Sulastin Sutrisno.
6. Aku Mau … Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903
Sebuah buku kumpulan surat kepada Stella Zeehandelaar periode 1899-1903 diterbitkan untuk memperingati 100 tahun wafatnya. Isinya memperlihatkan wajah lain Kartini. Koleksi surat Kartini itu dikumpulkan Dr Joost Coté, diterjemahkan dengan judul Aku Mau … Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.
“Aku Mau …” adalah moto Kartini. Sepenggal ungkapan itu mewakili sosok yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan perbincangan. Kartini berbicara tentang banyak hal: sosial, budaya, agama, bahkan korupsi.
“Aku Mau …” adalah moto Kartini. Sepenggal ungkapan itu mewakili sosok yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan perbincangan. Kartini berbicara tentang banyak hal: sosial, budaya, agama, bahkan korupsi.
Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Dipublikasikan oleh Tata Sumitra pada Selasa, 18 Februari 2014 dan dibaca sebanyak : 741 kali.
Jean Piaget (1896-1980)
Jean Piaget dilahirkan pada 9 Agustus 1896 di Neuchatel, Swiss. Ia meraih gelar Ph.D. dalam bidang biologi dari universitas lokal pada 1918, dan bersamaan dengan itu, ia juga menerbitkan novel intelektual, Recherche. Teks yang berpengaruh ini menunjukkan program penelitian Piaget. Dalam tulisan itu, ia menyatakan bahwa sains bersifat faktual dan agama bersifat sarat nilai Penjelasan realitas dari sains dan agama sering bertentangan. Lantas bagaimana sains dan agama bisa disatukan? Dan permasalahan ini pun sudah menjadi umum. Tindakan manusia bersifat kausal dan normatif. Kemudian, bagaimana pengetahuan sejati berkembang? Inilah pertanyaan mendasar dalam epistemologi dengan implikasi-implikasinya bagi pendidikan. Pertanyaan inilah yang hendak dijawab dalam 50 buku dan 500 artikel yang diterbitkan oleh Piaget dan sekarang diakui sebagai sumbangan utama bagi pengetahuan manusia. Piaget memperoleh jabatan pertamanya di Neuchatel pada 1925, lalu pindah untuk menetap di Geneva University dari 1929 sampai seterusnya. Ia ditunjuk menjadi Direktur International Bureau of Education pada tahun yang sama dan kemudian sebagai Direktur International Center for Genetic Epistemology pada 1955. Ia meraih gelar kehormatan pertama dari Harvard University pada 1963 diikuti lebih dari empat puluh gelar kehormatan termasuk Erasmus Prize pada 1972. Piaget tetap berkarya setelah pensiun pada 1971 dengan menulis 11 buku tentang epistemologi konstruktivis. Ia meninggal dunia pada 16 September 1980 di Jenewa dengan karya anumerta dan terjemahan yang terus bermunculan.
Penjelasan Piaget tentang pendidikan tergantung pada epistemologinya. Kaitan antara keduanya adakah pengetahuan dan perkembangan sebagai fakta-fakta normatif.
Epistemologi
Epistemologi sejak lama sudah menjadi disiplin normatif. Ketika Kant bertanya “Bagaimana pengetahuan mungkin didapat?” ia ingin mengidentifikasi batas-batas rasionalitas manusia dalam membedakan sains dengan takhayul. Pertanyaannya bersifat normatif karena pengetahuan ditentukan melalui norma. Norma adalah nilai yang menentukan kriteria (syarat) apa yang termasuk pengetahuan dan apa yang tidak termasuk pengetahuan. Salah satu kriteria pengetahuan adalah kebenaran (objektif) dari apa yang diketahui. Kriteria ini mengabaikan pengetahuan tentang kebohongan (knowledge of a falsehood), walaupun kebohongan tersebut dapat dipercaya. Piaget berpendapat bahwa persoalan epistemologis memiliki dimensi empiris juga, contohnya, “Bagaimana pengetahuan berkembang?” Pertanyaan ini bersifat empiris. Salah satu cara mendapatkan bukti adalah melalui kajian terhadap pertumbuhan pengetahuan selama masa anak-anak. Permasalahannya bukanlah knoweer (anak, yang ingin mengetahui) berkembang dalam pelbagai konteks kebudayaan, tapi pada penggunaan norma dalam pertumbuhan pengetahuan. Pengetahuan tidak muncul “sudah jadi” (ready-made) dalam pikiran anak. Norma bukanlah bawaan sejak lahir. Kendati beberapa norma bersifat kultural, norma intelektual—seperti pengetahuan yang menuntut kebenaran dari apa yang diketahui—tidak bersifat kultural. Kepercayaan kultural bisa salah (matahari terbit setiap pagi, perempuan tidak memiliki rasionalitas, dan seterusnya). Meskipun demikian, norma-norma digunakan, norma yang lebih baik dikontruksi dalam penggunaannya, dan pengetahuan sejati berkembang. Inilah “mukjizat” kreativitas manusia. Yang baru adalah fakta kehidupan yang terus menolak penjeksan. Inilah permasalahan mendasar yang dibahas dalam epistemologi Piaget. Karena pengetahuan berkembang mengikuti penggunaan norma, pengetahuan tersebut merupakan fakta normatif. Dengan demikian, fakta-fakta normatif dapat diselidiki secara empiris sebagai tindakan penilaian (ad of judgment). Tindakan tersebut muncul karena penyebab-penyebab psikososial, sementara penilaian muncul dari implikasi bermakna yang bersifat normatif, bukan kausal.Walaupun 2 secara kausal tidak menjadi 4, namun menunjukkan bahwa 2 + 2 = 4.
Ada sebuah contoh di sini. Dalam salah satu penekoan Piaget tentang penakran dengan induksi matematika, anak-anak berusia 7 tahun diminta menambah-angka besarar pada sepasang angka yang tidak sama. Berikut ini cuplikan penalaran John:
| PENANYA | Bagaimana jika kamu menambahkan satu angka besar ke angka ini dan satu angka besar ke angka lain. Apakah keduanya akan sama, atau angka ini lebih besar, atau angka lain lebih besar? |
| JOHN | Akan tetap benar walaupun di bawah atau di langit dan akan tetap benar apapun kehendak Tuhan Jadi kedua angka itu akan lebih besar. |
| PENANYA | Apa maksudnya langit? |
| JOHN | Berada di atas tempat tinggal Tuhan. |
Penalaran yang bagus dengan analogi ini menjadi contoh norma-norma intelektual (suatu bentuk hapalan AEIOU): otonomi (autonomy), kebutuhan (entailment, pengetahuan yang diperlukan), intersubjektivitas (intersubjectivity), objektivitas (objectivity), universitalitas (universality). penalaran bersifat autonom, yaitu pemikirannya sendiri. Penalaran meliputi kebutuhan, yakni hubungan yang diperlukan tentang “apa yang seharusnya”. Penalaran bersifat intersubjektif dan sejalan dengan aksioma Euclidean yang sama ditambahkan pada yang tidak sama yang merupakan paradigma “dasar bersama” bagi pelbagai pemikir. Penalaran bersifat objektif karena dijastifikasi sebagai jawaban yang benar dalam argumen valid (yang mempertahankan kebenaran). Penalaran memiliki derajat (tingkata) universalitas, baik yang terbuka ataupun tidak, yang diubah dalam pelbagai kondisi-kondisi kausal. Tiap norma tersebut dagunakan oleh Jean dalam pengembangan pengetahuannya. Penggunaan norma intelektual seperti itu merupakan inti dari epistemologi.
Pergeseran epistemologis sangat penting dalam tiga hal. Pertama, tindakan adalah dasar pengetahuan, di mana tindakan mencakup tindakan fisik ataupun tindakan sosial serta kegiatan intelektual. Lebih lanjut, terdapat logika tindakan yang diuraikan Piaget dalam model-model (struktur-struktur) formal. “Logika tindakan” tidak sama dengan “logika mental”. Metakognisi dalam pengertkn ini berada dalam struktur-struktur itu dan mengontrol tindakan, sekalipun knowerudak sadar atas pengaturan tindakan ini. Kontrol ini mencakup unsur normatif berdasarkan fungsi gandanya, sebagai piranti intelektual penghasil kebenaran dan menciptakanpiranti-pirantiyang lebih baik. Kedua, epistemologi yang memadai harus mengidentifikasi mekanisme yang melahirkan pengetahuan baru, yakni perkembangan. Menurut Piaget, mekanisme ini adalah ekuilibrasi (equilibration). Hubungannya dengan pengajaran akan diterangkan nanti. Ketiga, perkembangan pengetahuan memerlukan waktu dan dikonstruksi pada pelbagai macam tingkatan. Sekian abad telah memisahkan Newton dan Einstein, namun teori-teori mereka sekarang ini diajarkan di sekolah—kasus yang jeks untuk percepatan! Inilah pendidikan.
Pendidikan
Pendidikan didefinisikan Piaget sebagai penghubung dua sisi, “di satu sisi, individu yang sedang tumbuh (dan) di sisi lain, nilai sosial, intelektual, dan moral yang menjadi tanggung jawab pendidik untuk mendorong individu tersebut”.9 Individu berkembang sejak lahir dan terus berkembang. Perkembangan ini bersifat kausal bagi penyelidikan psikososial. Namun, terdapat komponen normatif juga karena pendidik menuntut nilai. Nilai adalah norma yang berfungsi sebagai petunjuk dalam mengidentifikasi apa yang diwajibkan, diperbolehkan, dan dilarang. Pendidikan adalah hubungan normatif antara individu dan nilai Menurut pandangan ini, pendidikan meliputi semua nilai, dan definisi Pkget memang tidak mengistimewakan satu nilai di atas nilai lain. Keputusan diserahkan kepada pendidik yang menghadapi permasalahan. Hal ini berarti bahwa nilai-nilai intelektual selama belajar di sekolah sama maknanya dengan nilai moral selama hidup. Guru dalam satu generasi menggunakan nilai (intelektual, moral) mereka dalam pendidikan untuk generasi selanjutnya. Dengan demikian, mereka langsung mengarah ke permasalahan mendasar. Mengajar dan belajar adalah tindakan yang bersifat normatif—bukan hanya ber¬sifat kausal. Bahwa pendidikan adalah pertukaran sarat nilai yang keberhasilannya tergantung pada transmisi dan transformasi.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud, bayangkan sebuah masyarakat yang anggota-anggotanya berusia sama. Misalnya, setiap orang dalam masyarakat ini adalah anak berusia 7 tahun. Masyarakat ini tidak memiliki kebudayaan tradisional ataupun warisan turun-temurun dari masa lalu, dan tidak ada anggota masyarakat yang lebih tua atau lebih muda. Akan seperti apa perkembangan intelektual dalam masyarakat tersebut? Dalam eksperimen pemikiran ini, Piaget menjelaskan bahwa anggota-anggota masyarakat tersebut memiliki kelemahan besar. Tanpa pengetahuan yang cliwariskan, perkembangan akan sangat sulit berlangsung, tetapi tidak mustahil. Anggota-anggota masyarakat ini mempunyai pikiran aktif. Dengan demikian transformasi tidak mustahil. Dalam pendidikan, pembedaan tersebut sangat penting. Masyarakat yang secara kausal tidak khas ini memunculkan permasalahan yang secara normatif khas.
Pengetahuan yang ada telah dikonstruksi dan sering dikodifikasi dalam sistem yang dijalankan oleh aturan melalui bahasa. Aturan, nilai, dan tanda merupakan aspek-aspek mendasar dari. masyarakat manusia. Sistem-sistem ini digunakan oleh guru yang memperkenalkannya sebagai pengetahuan baru kepada para siswa. Pengajaran ini menciptakan masalah “horison intensionalitas”.11 Bagaimana guru (orang tua, sebaya) dan siswa mendapatkan peluang memasuki “horison” yang sama? Dan bagaimana peluang itu diperluas? Intinya adalah bahwa belajar merupakan tindakan untuk memperoleh pengetahuan. Dengan demikian, proses belajar juga meliputi norma. Terdapat tiga kemungkinan di sini, yaitu (1) norma pengetahuan-yang-diajarkan dan norma pengetahuan-yang-digunakan-dalam-belajar adalah sama, (2) norma kedua mendahului norma pertama, atau (3) norma pertama mendahului norma kedua. Proses belajar sederhana melalui transmisi sesuai dengan (1) dan (2). Proses belajar yang kompleks lewat tranformasi disyaratkan oleh (3). Menurut Piaget, mediasi yang didasarkan pada norma selalu dibutuhkan dalam proses belajar. Pengetahuan ditransmisi-kan oleh guru yang menjadi mediator dengan mengurangi hambatan dan menambah kesempatan dalam (1) dan (2). Namun, mediasi berlangsung dengan cara berbeda dan lebih kuat seperti proses belajar yang kompleks, bila norma-norma yang lebih baik memeriukan konstruksi, seperti dalam (3). Mediasi ini membutuhkan transformasi.
Tiga masalah pembelajaran ini berhubungan dengan diagnosis, proses, dan hasil. Penilaian diagnostdk dibutuhkan dalam meng¬identifikasi tingkatan pengetahuan, baik dalam pengajaran maupun dalam proses belajar sebagai suatu pemeriksaan atas kesesuaian (ketidaksesuaian). Piaget merekomendasikan bahwa guru harus memiliki kemampuan investigasi dalam melakukan penilaian ini.’3 Namun, kegiatannya tadi tidak meluas ke penilaian kelas yang diakui memang tugas sulit. Kedua, proses belajar di kelas berlangsung dalam pelbagai cara, termasuk belajar bersama (group learning), dan “belajar sendiri” (learning by oneself). Piaget begitu lugas dalam merekomendasikan belajar bersama sebagai cara standar untuk proses belajar di kelas. Namun ada syaratnya. Belajar sendiri tetap diperlukan. Kontradiksi ini sangat jelas karena merupakan klaim normatif, bukan kausal. Klaimnya bukan belajar harus dilakukan sendiri, tapi harus bersifat otonom. Otonomi bukanlah anarki, sehingga siswa melakukan apa yang diinginkannya, bukan siswa ingin melakukan apa yang harus dilakukannya. Perbedaan yang hampir tak terlihat ini melahirkan motivasi belajar. Perbedaan ini mengabaikan heteronomi. Belajar bersama dapat “membutakan”
anggotanya untuk menerima pandangan (kelompok) tanpa meng-hargai pandangan individu. Kondisi ini juga tampak sebagai konformitas tanpa pertimbangan (unthinking conformity) atau penerimaan tak kritis terhadap otoritas intelektual. Otonomi memedukan individualisasi pengetahuan yang mungkin terjadi dalam proses belajar bersama. Ketiga, hasil dari proses belajar sangat penting. Jika tingkat baru terlalu tinggi, maka proses belajar berlangsung dalam bentukpengulangan (repetisi) dan penyesuaian (konformitas).
Tiga masalah pembelajaran ini berhubungan dengan diagnosis, proses, dan hasil. Penilaian diagnostdk dibutuhkan dalam meng¬identifikasi tingkatan pengetahuan, baik dalam pengajaran maupun dalam proses belajar sebagai suatu pemeriksaan atas kesesuaian (ketidaksesuaian). Piaget merekomendasikan bahwa guru harus memiliki kemampuan investigasi dalam melakukan penilaian ini.’3 Namun, kegiatannya tadi tidak meluas ke penilaian kelas yang diakui memang tugas sulit. Kedua, proses belajar di kelas berlangsung dalam pelbagai cara, termasuk belajar bersama (group learning), dan “belajar sendiri” (learning by oneself). Piaget begitu lugas dalam merekomendasikan belajar bersama sebagai cara standar untuk proses belajar di kelas. Namun ada syaratnya. Belajar sendiri tetap diperlukan. Kontradiksi ini sangat jelas karena merupakan klaim normatif, bukan kausal. Klaimnya bukan belajar harus dilakukan sendiri, tapi harus bersifat otonom. Otonomi bukanlah anarki, sehingga siswa melakukan apa yang diinginkannya, bukan siswa ingin melakukan apa yang harus dilakukannya. Perbedaan yang hampir tak terlihat ini melahirkan motivasi belajar. Perbedaan ini mengabaikan heteronomi. Belajar bersama dapat “membutakan”
anggotanya untuk menerima pandangan (kelompok) tanpa meng-hargai pandangan individu. Kondisi ini juga tampak sebagai konformitas tanpa pertimbangan (unthinking conformity) atau penerimaan tak kritis terhadap otoritas intelektual. Otonomi memedukan individualisasi pengetahuan yang mungkin terjadi dalam proses belajar bersama. Ketiga, hasil dari proses belajar sangat penting. Jika tingkat baru terlalu tinggi, maka proses belajar berlangsung dalam bentukpengulangan (repetisi) dan penyesuaian (konformitas).
Bukan dengan mengenal teorema Phytagorean, seorang siswa dikatakan telah menggunakan pemikirannya secara bebas. Yang lebih penting adalah bila siswa telah menemukan kembali (to rediscover) teorema tersebut dan bagaimana cara membuktikannya. Tujuan pendidikan intelektual bukanlah mengetahui bagaimana cara mengulang atau mempertahankan kebenaran yang “sudah jadi” (kebenaran yang ditiru hanyalah setengah kebenaran). Proses belajar untuk mendapatkan kebenaran seorang diri berisiko kehi-langan banyak waktu dan akan terjebak dalam kebingungan yang inheren dalam aktivitas nyata.
Pengenalan teorema ini pada akhirnya dapat dinilai sebagai prestasi yang sesuai dengan standar sekolah. Prestasi ini pun dapat dicapai tanpa memerhatikan kemajuan nyata dalam proses belajar di masa depan. Akan tetapi pengetahuan tetap berkembang, dan pengetahuan baru memiliki sebuah formasi di mana prestasi saat ini menjadi kontribusi. Jawaban benar tanpa alasan berdasarkan penalaran yang baik menjadi mandul dalam formasi intelektual.
Pengajaran tidak diragukan lagi memang diperlukan. Eksperimen pemikiran memang menunjukkan hal itu, tetapi tidak cukup bagi proses belajar yang baik. Guru-guru Einstein tidak mengajarkan e = mc2kepadanya. Kebaruan (novelty) dapat mengakibatkan penyusunan ulang pengetahuan yang ada melalui revolusi sesungguhnya melampaui apa yang diajarkan. Lebih lanjut, pengajaran yang baik dapat menghasilkan proses belajar yang buruk.
Siswa yang berhasil diajar berhitung sering tidak berhasil dalam penalaran angka. Mengajar anak untuk menghitung “berapa banyak” (how many) tidak cukup untuk menalar “sama banyak” (as many). Pembedaan normatif ini dikembalikan pada teori Frege yang menyebutkan bahwa jika kesamaan (equality, “sama banyak”) dihilangkan dari aritmatika, maka hampir tidak ada lagi yang tersisa— dan berarti tidak ada lagi yang dapat dihitung (“berapa banyak”). Piaget sudah mengenal dengan baik karya Frege keuka masih menjadi mahasiswa di Neuchatel. Ia menyadari bahwa jika mengajar diperlukan namun tidak cukup, maka dibutuhkan sesuatu yang lain.
Pengajaran tidak diragukan lagi memang diperlukan. Eksperimen pemikiran memang menunjukkan hal itu, tetapi tidak cukup bagi proses belajar yang baik. Guru-guru Einstein tidak mengajarkan e = mc2kepadanya. Kebaruan (novelty) dapat mengakibatkan penyusunan ulang pengetahuan yang ada melalui revolusi sesungguhnya melampaui apa yang diajarkan. Lebih lanjut, pengajaran yang baik dapat menghasilkan proses belajar yang buruk.
Siswa yang berhasil diajar berhitung sering tidak berhasil dalam penalaran angka. Mengajar anak untuk menghitung “berapa banyak” (how many) tidak cukup untuk menalar “sama banyak” (as many). Pembedaan normatif ini dikembalikan pada teori Frege yang menyebutkan bahwa jika kesamaan (equality, “sama banyak”) dihilangkan dari aritmatika, maka hampir tidak ada lagi yang tersisa— dan berarti tidak ada lagi yang dapat dihitung (“berapa banyak”). Piaget sudah mengenal dengan baik karya Frege keuka masih menjadi mahasiswa di Neuchatel. Ia menyadari bahwa jika mengajar diperlukan namun tidak cukup, maka dibutuhkan sesuatu yang lain.
Inilah ekuilibrasi atau proses belajar yang kompleks.20 Uraian Piaget tentang ekuilibrasi memang tidak lengkap. Akan tetapi uraiannya mempunyai dua prinsip penting bagi pendidikan. Pertama, bahwa kreativitas itu penting—konstruksi baru oleh subjek genius atau rekonstruksi oleh subjek nongenius—sebab setiap pikiran manusia yang bekerja berpotensi untuk maja Menurut Piaget, “Tiap individu dibimbing untuk berpikit dan memikirkan kembali sistem konsep-konsep kolektif.” Warisan kultural berupa kearifan kolektif adalah titdk awal yang bermanfaat. Namun, terdapat titik akhir yang harus dipertimbangkan juga. Pikiran yang hidup (livingmind) adalah pikiran yang bekerja dengan kapasitas untuk membuat penilaian lebih baik. Prinsip ini mengarah pada prinsip kedua bahwa pengajaran dengan sendirinya bisa efektif. Apa yang diperlukan adalah desain kreauf untuk tugas-tugas belajar yang secara normatif memberdayakan, bukan yang secara kausal melumpuhkan. Desain seperti ini dibutuhkan dalam memicu transformasi untuk proses belajar yang baru.22 Lalu muncullah pertanyaan penting, “Apakah menalar merupakan tindakan kepatuhan (act of obedience), ataukah kepatuhan merupakan tindakan menalar (act of reason).
Menyampaikan kebenaran kepada siswa yang memberi respon sesuai dengan (patuh kepada) apa yang diajarkan merupakan suatu hal yang sangat baik. Prestasi pun bisa diraih. Kepatuhan pada nalar adalah persoalan lain. Kepatuhan menuntut agen menguasai proses belajar dengan mengubah alasan demi memperoleh jawaban berdasarkan alasan yang baik, sekalipun mengarah pada ketidakpatuhan rasional terhadap apa yang diajarkan.
Menyampaikan kebenaran kepada siswa yang memberi respon sesuai dengan (patuh kepada) apa yang diajarkan merupakan suatu hal yang sangat baik. Prestasi pun bisa diraih. Kepatuhan pada nalar adalah persoalan lain. Kepatuhan menuntut agen menguasai proses belajar dengan mengubah alasan demi memperoleh jawaban berdasarkan alasan yang baik, sekalipun mengarah pada ketidakpatuhan rasional terhadap apa yang diajarkan.
Sumber:
Joy A. Palmer (Ed.) (2006), Fifty Modern Thinkers on Education Terj. Farid Asifa. Yogyakarta: IRCiSoD.
Dipublikasikan oleh Tata Sumitra pada Kamis, 20 Maret 2014 dan dibaca sebanyak : 233 kalihttp://dikdas.kemdikbud.go.id/index.php/jean-piaget-1896-1980/
Sekolah Dasar
Sekolah dasar (disingkat SD) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Lulusan sekolah dasar dapat melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat).
Pelajar sekolah dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.
Sekolah dasar diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan sekolah dasar negeri (SDN) di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Kementerian Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Sedangkan Kementerian Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah dasar negeri merupakan unit pelaksana teknis dinas pendidikan kabupaten/kota.
Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Nomor 20 Tahun 2001) Pasal 17 mendefinisikan pendidikan dasar sebagai berikut:
(1) Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
(2) Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/peserta-didik-sekolah-dasar
Langganan:
Postingan (Atom)